Conceptual Branding


Brand merupakan cerita yang tak ada habisnya untuk dikisahkan. Memantik perhatian, dan membangun ikatan emosional. Seiring waktu, nilai-nilainya bakal terus meluas. Karena branding bisa jadi dimulai dari obrolan renyah yang menyenangkan.

Coba perhatikan, ada berapa banyak reputasi baik yang kita dengar justru bukan dari iklan. Melainkan dari obrolan antar teman, saudara, atau seseorang yang tidak sengaja duduk di samping kita saat menunggu pesawat di bandara. Mereka tidak dibayar, bahkan bisa jadi secara “tidak sadar” mereka telah menjadi media branding yang paling meyakinkan di dunia!

Kini potensi branding antar kepala tersebut makin digdaya, dengan kian berpengaruhnya media sosial. Jika dulu cuma mulut yang saling menyahut, sekarang ada jutaan akun yang siap menggaungkan pesan. Berita baik dan kabar buruk, bakal sama cepatnya memengaruhi reputasi.

Ada brand yang telah puluhan tahun membangun reputasinya, mendadak terjungkal oleh kesalahan fatal yang terjadi hanya dalam beberapa jam. Dan sebaliknya, ada brand yang baru seumur jagung, tapi reputasi baiknya dibela di mana-mana.

IMG-20160327-WA0000

Content

Pesan branding yang paling mendasar adalah brand value. Nilai yang menjadi pijakan bagi pengembangan brand. Tanpa nilai yang jelas, branding yang dibangun akan rapuh. Mudah roboh, bahkan oleh kesalahan kecil yang “tidak sengaja” dilakukan oleh dirinya sendiri. Karena itulah, conceptual branding berakar dari sini.

Brand value menjadi pemandu bagi segala kebijakan branding. Tidak sekedar memaparkan pesan, namun juga menunjukkan karakter dan reputasi yang ingin dibangun ke depan. CEO Starbucks, Howard Schultz, menandaskan, “Pelanggan harus mengetahui bahwa anda berpijak pada suatu nilai.” Sehingga, pesan yang akan diluaskan harus lahir dari nilai yang ciamik, agar tumbuh menjadi reputasi baik.

Context

Brand yang bertahan ratusan tahun, sangat teguh memegang nilai-nilainya. Tapi mereka juga tidak lupa untuk selalu beradaptasi. Karena setiap masa ada tantangannya. Dan tiap tantangan butuh solusi yang kontekstual. Karena itulah, kemampuan membaca target branding secara jeli, sangat dibutuhkan.

Tidak ada lagi brand yang bisa leha-leha, merasa bisnis dan habitatnya baik-baik saja. Semuanya terus berubah. Dan perilaku konsumen juga bakal menyesuaikan jamannya. Branding tidak bisa dilakukan secara spontan dan parsial, tanpa konsep perencanaan yang matang. Teh celup memang hanya butuh waktu menitan untuk disajikan. Tapi brand teh celup, butuh waktu tahunan untuk ditanamkan di benak pelanggan.

Connect

Media sosial detik ini ibarat tangan yang saling bergandengan. Papan ketik seolah saling terhubung antar akun. Kiriman gagasan kita bisa sekejap dibagikan oleh puluhan, ratusan, bahkan jutaan orang yang tidak saling kenal.

Berbagi hal baik saja tidak cukup, mereka selalu berharap yang wow! Karena itulah, nilai-nilai yang diyakini oleh brand harus terus diaktivasi dengan beragam gagasan cerdik dan segar. Serta memanfaatkan beragam platform. Namun jangan pernah berprinsip yang penting banyak, yang penting sering; karena branding semacam ini hanya akan membosankan, bahkan memuakkan.

Branding mesti ditakar secara efektif dan efisien dengan rentang waktu terukur. Baik secara jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Pihak internal juga harus memiliki kesadaran branding yang sama. Sehingga ketika strategi branding dijalankan, koneksi antara brand dengan targetnya bisa optimal. Ada ungkapan menarik untuk menggambarkan pentingnya kesepahaman dalam branding, “Saat kita membicarakan hal yang sama saja, bisa jadi pemahaman kita beda. Apalagi kalau sampai pemahaman kita beda, jangan pernah berharap kita bisa bicara hal yang sama.”

——-

Edy SR

Brandpreneur di EDYSR.COM

Facebook, Instagram, Linkedin, Twitter: #brandpreneur

Pelatihan Branding untuk Marketing & Communications, Fakultas Psikologi & Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia, 26 Maret 2016.