Legitnya “Cokelat #GenM”


Ibarat cokelat, pasar muslim sedang legit-legitnya. Bagi pebisnis dan pemasar, inilah momentum untuk segera menggarapnya. Indonesia, sebagai pasar muslim terbesar di dunia, menawarkan peluang yang sangat besar. Itu kenapa, semua pedagang kerudung, laku semua.

Legitnya pasar gamis dan kerudung telah membuat Dolce & Gabbana (D&G) dan Nike jadi tergoda. Awal 2016, D&G meluncurkan desain hijab dan abaya, busana muslimah seperti jubah, seharga 35-90 juta rupiah per pakaian. Selang setahun kemudian, Maret 2017, Nike Pro Hijab dikenalkan ke pasar untuk mengakomodir kebutuhan para atlit muslimah. Meski apparel-nya sendiri baru akan diproduksi tahun 2018.

Kedua brand global tersebut butuh sekitar tiga tahun untuk meriset pasar muslim dunia, setelah ada catatan belanja pasar muslim yang luar biasa. Seperti dikutip Thomson Reuters, sepanjang 2013, konsumen muslim dunia telah membelanjakan 266 miliar dolar AS untuk pakaian dan alas kaki. Jumlah tersebut diprediksi masih akan terus tumbuh hingga 2019, menjadi 484 miliar dolar AS.

Ikuti talkshow-nya. Baca bukunya. Terapkan ilmunya. Menangkan pasarnya. Dan jangan lupa, nikmati Cokelat #GenM-nya.

Kekuatan #GenM
Seiring tren global, pertumbuhan pasar muslim di Indonesia juga tidak kalah menggoda. Yuswohady, dalam bukunya “#GenM, Generation Muslim”, memaparkan bahwa gelombang pasar muslim Indonesia sejatinya sudah mulai bergerak sejak 2010, saat Wardah Cosmetic mendapatkan momentum pasar muslimahnya. Hingga kini, “kosmetik halal” tersebut mampu mengusik dominasi Sariayu dan Mustika Ratu, yang telah eksis sejak era 70-an.

“Sekarang ini merupakan masa panen raya untuk bisnis di pasar muslim,” ungkap Yuswohady. Fakta tersebut ditandai dengan lahirnya ikon muslim yang dia sebut dengan “the new cool”. Seperti Gigi Band yang mendobrak pasar musik religius dengan aransemen baru. Lalu film Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal. Dan yang teranyar, tentu saja kiprah Nadiem Makarim bersama Go-Jek, yang menawarkan solusi digital bagi industri transportasi.

Dalam Talkshow Bisnis dan Pemasaran “#GenM, Generation Muslim” bersama Komunitas Brandpreneur di Yogyakarta, 24 Maret 2017, Yuswohady menegaskan bahwa tumbuhnya pasar muslim tersebut, tak lepas dari lahirnya #GenM. Generasi muslim yang lahir tahun 1990-an, yang makin kaya, makin pintar, dan makin religius. Sehingga, kekuatan finansial, pemikiran, dan kepedulian sosialnya, mampu memengaruhi pasar konvensional.

Kiri ke Kanan: Edy SR (moderator), Yuswohady, dan Among Kurnia Ebo.

#GenM, Generasi Otak Kanan
Lahirnya generasi muslim “the new cool” merupakan bukti mulai eksisnya generasi otak kanan. Generasi dengan gagasan baru, yang mungkin belum terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Selama dua tahun terakhir, Yuswohady mengamati bahwa #GenM telah menggerakkan tujuh industri di pasar muslim. Mulai fashion dan kosmetik syari, makanan halal, umroh dan turisme halal, keuangan syariah, hingga pendidikan Islam.

Among Kurnia Ebo, penggagas Komunitas Umroh Backpacker Otak Kanan, menjadi salah satu yang membuktikan analisa tersebut. Hadir sebagai pembicara talkshow #GenM, Ebo mengisahkan beragam fakta unik di industri umroh dan turisme halal. Salah satunya adalah pilihan komunitasnya untuk menjadi antitesis bagi biro perjalanan umroh. Karena itu, mereka bisa memangkas biaya umroh hingga 50% dibanding tarif umroh yang ditawarkan biro perjalanan.

“Lalu dari mana saya dapat keuntungan? Keuntungan saya adalah branding,” ungkap Ebo mantap. Karena anggota komunitas ini kebanyakan berwirausaha, maka konsep umrohnya selalu dirangkai dengan traveling ke beberapa negara. Tujuannya, agar selain menunaikan ibadah umroh, mereka juga bisa sekaligus mentoring bisnis dan brandstorming mencari ide baru. Sehingga, saat tiba di Indonesia, pengalaman sepanjang perjalanan umroh backpacker ala otak kanan tersebut, bermanfaat untuk pengembangan bisnisnya.

Jadi, kapan mau ikut panen raya di pasar muslim, Brander?

Edy SR
Brandpreneur di EDYSR.COM
Facebook, Instagram, Linkedin, Twitter: #brandpreneur

Moderator Talkshow Bisnis dan Pemasaran “#GenM, Generation Muslim”
Kerjasama Komunitas Brandpreneur dan Penerbit Bentang Pustaka
Horison Ultima Riss Yogyakarta, 24 Maret 2017