Membaca Logo Baru Instagram


Hanya butuh beberapa menit, sejak diluncurkan 12 Mei 2016, tampilan baru Instagram langsung seru dibicarakan. Ada yang suka, karena sudah bosan dengan yang lama. Ada yang biasa saja. Dan tidak sedikit yang kecewa. Wajar, namanya juga perubahan, pasti selalu makan “korban”.

Analis digital marketing mencatat, bahwa ada tiga elemen utama pendorong pemasaran era ini. Perempuan, generasi muda, dan internet. Jika ketiganya dioptimalkan dalam strategi pemasaran, maka bisa dipastikan akan mendatangkan keuntungan finansial, dalam jangka pendek. Dan dalam jangka panjang, bisa untuk menjalin loyalitas pelanggan.

Potensi strategis semacam itu, tentu tidak ingin diabaikan oleh banyak brand. Termasuk Instagram. Dan responnya, secara kasat mata (tangible) berupa redesign logo serta tampilan antarmukanya. Sedang secara intangible (tak kasat mata), berupa nilai-nilai baru yang diyakini Instagram telah bergeser dibanding saat pertama kali mereka muncul dengan identitas kamera “yang apa adanya”.

Digital Native

Ada dua generasi pasar digital yang biasa dijadikan target branding. Pertama, generasi “digital immigrant”. Generasi yang mengalami masa transisi antara belum ada internet, dengan era ketika internet lahir lalu berkembang seperti sekarang. Tipe generasi ini, lebih riwil. Namun jika sudah klik, akan lebih loyal. Perilaku umumnya, dia tidak mudah melepas uang, kalau produk belum di tangan. Belanja online-nya, maunya COD-an (cash on delivery) atau transfer belakangan.

Generasi kedua, “digital native”. Warga pribumi dunia digital. Karena saat generasi ini lahir, internet sudah mudah dan murah. Generasi yang tidak mengalami untuk terhubung internet, harus nunggu koneksi via saluran telepon sambil ngopi, bikin mi instan, bahkan kalau perlu bisa ditinggal mandi. Biasanya, dengan segala kemudahan internet era sekarang, generasi pribumi lebih enteng melepas uangnya. Biasa transaksi coba sini, coba sana. Generasi ini lebih “cool”, tapi diam-diam langsung “ngacir” kalau tidak klik. Tidak banyak omong, langsung nyelonong.

Tentu saja, Instagram lebih mengincar pasar generasi kedua, digital native. Kalaupun dapat limpahan dari para imigran digital, itu bonus. Karena itu, wajar jika Instagram lebih memilih segera berubah “kekinian” sebelum ditinggal warga pribumi yang jauh lebih menjanjikan untuk pasar bisnisnya di masa depan.

IG Baru 1

Flat Design

Facebook merupakan salah satu brand yang menghadirkan disiplin “desain datar” (flat design) dalam produknya. Sejak awal dikenalkan, tampilan Facebook sederhana, datar-datar saja. Tidak tampak mencolok dengan polesan filter yang “sok digital”. Biasa saja.

Tahun 2012, Instagram dibeli Facebook. Kisah selanjutnya, tentu saja beragam kebijakan Facebook harus diadaptasi oleh Instagram. Dan redesign Instagram yang lebih datar, yang baru saja dikenalkan ini, mungkin saja merupakan salah satu konsekuensi menjadi “anak perusahaan”.

Tentu “flat design” dalam konteks ini bukan sekedar perkara suka-tidak sukanya Mark Zuckerberg, pemilik Facebook. Tapi pilihan ini bisa jadi merupakan kebijakan strategis. Ketika dunia pemasaran semakin datar (flat), maka semakin sengit juga persaingan antar brand di genggaman tangan kita. Coba cek, berapa aplikasi social media yang terpasang di ponsel pintar kita. Ada tiga, lima, atau malah puluhan?

Juara dalam Genggaman

Mark pasti ingin memenangkan pertandingan bisnis di tangan kita, Bung. Dan untuk itu, segala strategi harus dipikirkan dan diuji ke warga digitalnya. Cara paling mudah adalah, menciptakan ikon aplikasi baru, yang ketika bersanding dengan ikon aplikasi social media lainnya, dia tampak menonjol. Mencuri perhatian.

Sekarang silakan lihat, saat pelangi Instagram tiba-tiba menyeruak di antara kerumunan warna biru Facebook, Twitter, Linkedin, bahkan Traveloka. Atau di antara belantara merah Path, Pinterest, Google+, dan Youtube. Bila mata kita lebih dulu mengindentifikasi warna pelangi, maka strategi Mark juara!

Memang tampaknya sederhana, cuma mengganti ikon aplikasi Instagram. Tapi ingat, begitu ratusan juta pasang mata lebih mudah tergoda untuk melihatnya, akan lahir potensi bisnis dari sana. Awalnya cuma mudah dilihat, lalu menambah jumlah pengguna, lama-lama meningkatkan jumlah pengiklan, dan ujungnya semua yang berkaitan dengan Instagram bisa diuangkan. Online shop rumahan saja bisa jualan dengan Instagram, dan memutar omset jutaan. Masa iya Instagram kalah cerdik dengan penggunanya?

——-

Edy SR

Brandpreneur di EDYSR.COM

Facebook, Instagram, Linkedin, Twitter: #brandpreneur