Yu Djum, “Menggudegkan” Dunia


Tanpa Gudeg Yu Djum, mungkin dunia akan terasa hambar. Jadi kurang manis, karena tidak ada bacemannya. Atau kurang menggigit, karena tidak ada krecek pedasnya. Tapi yang pasti, bakal tak ada cerita orang kelebihan bagasi pesawat, gara-gara kebanyakan membawa gudeg kendil untuk oleh-oleh dari Jogja.

Seandainya dibuat riset kesadaran brand untuk kategori gudeg, bisa jadi Gudeg Yu Djum ada di tingkat top of mind. Level paling diingat konsumen pada kategorinya. “Untuk kategori gudeg, brand apa yang paling anda ingat? Yu Djum!”, begitulah kira-kira adegan risetnya. Konsumen seolah tak perlu waktu lama untuk menyebut brand legendaris di bidang ‘pergudegan’ ini.

Untuk sekedar ingin tahu popularitas Gudeg Yu Djum di internet, pada 21 November 2016, saya coba telusuri media sosial dan mesin pencari. Hasilnya, menurut Facebook ada seribuan orang yang membicarakannya. Sedang di Instagram, #GudegYuDjum digunakan oleh 2.943 kiriman. Dan di Google, ada sekitar 295 ribu hasil pencarian. Angka-angka tersebut, jauh meninggalkan brand gudeg lainnya.

yu-djum-situs

Memasak Reputasi

Sekitar tiga tahun lalu, April 2013, seorang teman dari Singapura berkunjung ke Jogja. Dan salah satu pesan penting dari istrinya adalah jangan lupa membawa Gudeg Yu Djum dua besek, untuk oleh-oleh keluarga di Negeri Singa. Sebuah pesan singkat, yang menggambarkan reputasi Gudeg Yu Djum sebagai salah satu penanda Jogja.

Reputasi tersebut tentu tidak dibangun dalam waktu semalam. Yu Djuwariah (nama lahir Yu Djum) telah ‘memasak’ reputasi gudegnya sejak 1950. Masa ketika media sosial yang bisa diandalkan untuk branding adalah “cerita dari mulut ke mulut”. Yu Djuwariah barangkali tak pernah membayangkan strategi branding ala manajemen modern. Tapi beliau pasti paham bahwa produk yang baik akan melahirkan nama baik.

Karena itulah, cita rasa Gudeg Yu Djum dijaga supaya tetap menggoda selera. Kemasan kendil, besek, dan daun pisang dipertahankan, agar tetap terkesan tradisional. Bahkan, saran penyajiannya pun hanya berupa selembar kertas yang diikat karet gelang. Uniknya, ‘branding sederhana’ tersebut berhasil. Buktinya, kita masih menikmatinya.

Mewariskan Brand

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Djuwariah kecil lahir dari keluarga yang menggeluti gudeg. Meski demikian, tidak ada nama dagang yang diwariskan. Karena saat itu, gudeg hanya dikenali dari nama penjualnya. Lucunya, pelanggan gudeg Yu Djuwariah justru memanggilnya dengan sebutan “Yu Djum”. Panggilan salah itulah yang kemudian melahirkan brand “Gudeg Yu Djum”.

Berawal dari kedai di sekitar Plengkung Wijilan, Jogja, kini Gudeg Yu Djum memiliki beberapa cabang yang dikelola oleh anak-cucunya. Generasi penerus yang akan menjaga reputasi baik yang telah dibangun puluhan tahun. Senin, 14 November 2016, Eyang Djuwariah telah menghadap Ilahi. Sudah cukup beliau memasak gudeg buat kita. Kini, brand “Gudeg Yu Djum” lah yang akan meneruskannya.

——-

Edy SR

Brandpreneur di EDYSR.COM

Facebook, Instagram, Linkedin, Twitter: #brandpreneur